Thursday, September 11, 2014

INSIDE: De Graafschap dan pengaruhnya dalam sepakbola Belanda


De Graafschap, 2012-2013

   Eredivisie sebagai salah satu liga top eropa, tentu takkan lepas dari beberapa klub majority yang cukup populer di tanah air. Contohnya, Ajax Amsterdam, Feyenoord ataupun PSV.  Tak perlu banyak pembahasan, toh klub klub tersebut sudah amat populer di tanah air sejak jaman baheula.  Klub klub tersebut selain banyak prestasi yang dikumpulkan, banyak pula pemain pemain dari akademi mereka yang sukses mengibarkan nama di dunia sepakbola. Namun, ada yang terlupa dari Liga Belanda. 

Banyak diantara kita melupakan klub klub medioker yang bisa disebut menelurkan pemain pemain hebat tiap masa, namun penjualan pemain pemain tersebut ke klub yang berada disatu tingkat diatas mereka dirasa perlu, karena keterbatasan finansial untuk mampu mengarungi liga. Pemain pemain tersebut, pemain yang berbakat asli klub tersebut, mungkin hanya sebagai “alat tukar” untuk mendapatkan pemain pemain yang kualitasnya dibawah pemain yang dijual, yang penting klub tersebut mampu memenuhi kuota pemain.


Guus Hiddink muda, mengawali karir di De Graafschap
Dalam artikel kali ini, Penulis dapat mengambil contoh salah satu klub yang penulis sebut diatas. Yaitu De Graafschap. De Graafschap merupakan sebuah klub asal Doetinchem, Belanda. Klub ini, tampil impresif pada musim 2009-2010 lalu, dengan menjuarai Eerste Divisie, atau Divisi 1 nya Liga Belanda. De Graafschap, walaupun nama klub ini terasa asing di telinga, namun klub ini senantiasa menyetorkan punggawanya ke kancah sepakbola dunia. Contoh gampangnya, Guus Hiddink, pelatih tenar asal Negeri kincir angin ini mengawali karir sepakbola pro nya disini.


De Vijverberg, salah satu stadion terbesar di Belanda
De Graafschap memiliki stadion yang bernama De Vijverberg. Sebuah stadion yang berskala internasional, untuk ukuran sebuah klub Divisi 1, dan mungkin salah satu yang terbesar di Eropa.  Menariknya, De Graafschap mungkin bukan salah satu klub penting di Liga Belanda, bila kita melihat dari segi historia nya. Klub ini baru berdiri pada tahun 1950. Sebuah pencapaian menarik, bila kita membandingkan dengan klub klub league one atau championship di Inggris yang notabene klub klub tersebut berdiri lebih awal ketimbang De Graafschap. De Graafschap memiliki fan terbanyak kedua setelah klub klub papan atas Eredivisie , terutama di Belanda. Dan mereka ini rival terberat dari Vitesse Arnhem!


Jhonny Van Beukering, sekitar tahun 2003
Kembali ke topic bahasan kita, bahwa klub ini merupakan salah satu klub dengan pemain pemain akademi yang cukup dikenal di sepakbola dunia.  Meskipun tidak  banyak orang yang tahu, De Graafschap yang hobi mondar mandir di Eredivisie kemudian ke Eerste divisie ini pernah menelurkan bakat bakat seperti Siem De Jong, Luuk De Jong, Klaas Jan Huntelaar, Peter Van Vossen,  Patrick Paauwe dan tentu saja nama yang cukup akrab di telinga penikmat sepakbola Indonesia, Jhonny  Van Beukering.









Beberapa musim yang lalu, tepatnya musim 2011-2012, De Graafschap sempat terdengar kembali di kancah eredivisie. Lewat duet striker klasiknya yaitu Steve Danny Marc De Ridder dan Rydell Poepon. Bagi penikmat Liga Inggris, Steve Danny Marc De Ridder tentu bukan nama yang asing. Ya, dia pernah berseragam Southampton dan Bolton Wanderers. Namun, duet striker itu tak mampu mengangkat De Graafschap ke tengah klasemen Eredivisie. Pada musim 2012-2013, mereka harus angkat kaki dari Eredivisie.





Sekilas mengenai  De Graafschap, kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa klub kecil bukan berarti tak memberikan kontribusi, namun juga dapat memberikan pengaruh, bagi Negara tempat mereka berdiri.


By: @dethtroops

Wednesday, August 13, 2014

5 Derby terpanas di jagat Football League!

Setiap tahun selama puncak musim panas di Inggris , Football League merilis kalender seluruh pertandingan musim mendatang untuk penggemar sepak bola yang sudah bosan menghitung hari dimulainya kembali "rutinitas" mereka. Apa hal pertama yang setiap penggemar dicari saat melihat kalender pertandingan? Derby lokal.Bukan,tulisan ini tidak akan seluruhnya membahas tentang Derby County tentunya tetapi sebuah bagian dari tradisi sepak bola yang sudah dimulai sejak beberapa dekade,Derby atau rivalitas satu tim dengan tim lainnya adalah salah satu aspek besar dari Football League . Derby terbentuk untuk sejumlah alasan yang berbeda dan mereka merupakan bumbu tambahan untuk pertandingan tertentu untuk setiap tim. Keluarga dapat terbagi dan persahabatan dapat hancur karena Derby ; rivalitas bisa menjadi urusan sengit. Tapi Derby mana sajakah yang bisa ditaruh di urutan teratas dari semua rivalitas yang ada di Football League musim ini atau musim mendatang ?


1. Sheffield United v Sheffield Wednesday ( Steel City Derby )

Dua klub besar yang kurang beruntung baru-baru ini adalah dua tim asal kota Sheffield. Kedua tim menghabiskan awal abad ke-21 di Football League dan jarang bisa menembus ke Premier League. Rivalitas antara kedua tim merupakan salah satu derby tertua di dunia dan juga salah satu yang paling sengit. Berasal dari kota yang sama menambah rasa setiap pertemuan karena pendukung kedua tim sering kali datang dari keluarga yang sama membuat hasil menjadi lebih penting untuk fans. Dua klub sering berdebat karena prestasi dan sejarah mereka sehingga pertemuan tidak dapat diduga sehingga menambah euforia bagi yang menang dan kesedihan bagi yang kalah.

Banyak pertandingan "Steel City Derby" berakhir dengan skor besar,seperti kemenangan 7-3 untuk United di Bramall Lane pada tahun 1951 yang masih diingat oleh banyak pendukung Blades ( julukan United ) dan kemenangan 4-0 Owls ( julukan Wednesday ) yang sering disebut sebagai "Boxing Day Massacre" oleh para pendukung sejak tahun 1979. Tapi yang terbesar dari semua mungkin adalah Semifinal FA Cup 1993 di Wembley di mana lebih dari 75.000 penggemar melihat Wednesday keluar sebagai pemenang lewat skor 2-1 setelah perpanjangan waktu. Merupakan suatu kebetulan dimana kedua fans menjuluki satu sama lain sebagai "Babi"' dengan legenda menurut pendukung United mengatakan bahwa Hillsborough ( kandang Owls ) merupakan bekas sebuah peternakan babi, dan pendukung Wednesday menjuluki Blades seperti itu karena kit merah dan putih United menyerupai potongan daging babi.

Musim ini : Sheffield United masih berada di League One dan Wednesday anteng di Championship untuk musim 14/15.Tidak bertemu di liga,akan tetapi akan sangat dinikmati jika mereka bertemu di ajang FA Cup ataupun Piala Liga setelah pertemuan terakhir mereka di tahun 2012.

2. Burnley v Blackburn Rovers ( The East Lancashire Derby )

"The East Lancashire Derby" atau yang sering disebut "The Battle of Burns" atau "El Lanclasico" didominasi oleh Rovers dalam beberapa tahun terakhir. Burnley harus menerima 35 tahun tidak pernah menang atas saingan mereka. The East Lancs Derby memiliki catatan operasi kepolisian terbesar di Inggris untuk pertandingan sepak bola,mengapa ? karena beberapa game terakhir telah ternoda oleh pertempuran antara penggemar dan hasil-nya telah meninggalkan rasa pahit yang terasa bagi kedua tim (meskipun dapat dikatakan sebagian besar pendukung Burnley yang harus merasakannya)  

Promosi di musim 2013/2014 untuk Clarets ( julukan Burnley ) berarti tidak akan ada pertemuan liga pada 2014-15 dan akhirnya waktu istirahat untuk para penggemar kedua tim,pertemuan terakhir yang berbuah kemenangan Burnley 2-1 di Ewood Park ( markas Blackburn ) mematahkan rekor buruk 35 tahun dan membuat mereka jadi jagoan lokal disana. Tradisi saling mengejek satu sama lain selama bertahun-tahun, musim 2009-10 penggemar Blackburn mengejek Burnley dengan mengenakan topeng Owen Coyle, karena ia meninggalkan Clarets untuk bergabung Bolton, maka di pertandingan terakhir Blackburn sebelum degradasi dari Premier League,pendukung Burnley mengatur sebuah pesawat yang dibelakanya berkibar spanduk bertuliskan "In Venky We Trust" untuk terbang di atas Ewood Park.

Musim ini : setelah musim lalu bertemu di liga ,Burnley promosi sehingga kedua tim sementara tidak bisa melanjutkan rivalitas mereka dimusim 2014/2015.mungkin ada peluang kecil bertemu di FA Cup atau Piala Liga ?

3.AFC Wimbledon v MK Dons ( Dons Derby )
 
Rivalitas yang sangat baru-baru ini terbentuk ketika pemilik Wimbledon FC memutuskan untuk mengatasi berkurangnya basis penggemar mereka yang terbatas dengan mengikuti trend yang banyak terjadi di Amerika Serikat yaitu pindah pada musim 2004-2003. Pindah dari selatan barat London, ke kota yang tidak memiliki tim besar Milton Keynes - Buckinghamshire yang memiliki jarak sejauh lebih dari 80 mil. Langkah itu kontroversial dan tidak populer,terutama untuk penggemar Wimbledon yang kebingungan karena tiba-tiba kehilangan tim mereka.  

Tetapi para fans yang kebingungan dan marah ini langsung menanggapi dengan memulai sebuah klub baru bernama "AFC Wimbledon" dan seperti dalam dongeng klub baru yang dimiliki dan dijalankan oleh para penggemar naik dari dasar piramida sepakbola Inggris. Hanya dalam sembilan musim, mereka sudah berada di League Two! Hingga sampailah di tahun 2012 ketika mereka menghadapi MK Dons yang merupakan perwujudan dari tim yang pindah kota tersebut  untuk pertama kalinya, di babak ketiga FA Cup. Banyak penggemar AFC berencana untuk memboikot pertandingan, tetapi mereka yang memilih pergi untuk menonton pertandingan ini melihat tim yang mereka bangun dari bawah dengan bangga walaupun kalah lewat gol Jon Otsemobor setelah Jack Midson membuat mereka menyamakan skor menjadi 1-1.

Musim ini : Walaupun tidak dalam satu divisi,mereka akan bertemu di putaran pertama Piala Liga.Pertemuan kedua sepanjang sejarah dan terjadi lagi di ajang Piala tentu menjanjikan pertarungan yang menarik!

4. Ipswich Town v Norwich City ( East Anglia Derby )

Dua tim yang markas-nya berjarak 40 mil antar satu sama lain,tetapi menjanjikan persaingan sengit jika mereka bertemu.Inilah "East Anglia Derby"! Pertama kali bertemu di tahun 1902,kedua tim hingga saat ini sudah bertemu sebanyak 139 pertemuan.Dua pertemuan yang menarik antara kedua klub,semuanya terjadi di kompetisi piala. Pada musim 1972-1973 Ipswich mengalahkan Norwich 4-2 secara agregat untuk memenangkan Texaco Cup ,serta pada tahun 1985 klub bertemu di semi-final Piala Liga. Ipswich memenangkan leg pertama 1-0 di Portman Road, namun Norwich mencetak gol di awal leg kedua di Carrow Road untuk menyamakan agregat. Steve Bruce mencetak gol kemenangan di akhir pertandingan untuk membawa Norwich ke Wembley

Selain pertarungan keras di lapangan,Derby ini memiliki sejarah kerusuhan suporter sehingga kepolisian selalu meminta pertandingan dimainkan siang hari agar mengurangi kemungkinan bentrok kedua suporter.Namun dibalik kerasnya East Anglia Derby ,tersimpan satu kejadian yang mungkin anda bisa percaya ataupun tidak dan hal ini terjadi bukan di pertandingan itu.Tahun 2001 saat Norwich menjamu Burnley di First Division ( sekarang Championship ) ,operator papan skor mereka menampilkan "Man Utd 1 - 0 Scum" di papan skor saat Ipswich masih ada di EPL .Seluruh wajah di Carrow Road memerah melihat hal itu dan walaupun hal itu hanya untuk lucu-lucuan ( atau operator mereka frustrasi melihat rival ada di atas ),pihak Norwich langsung meminta maaf atas kejadian itu.

Musim ini : East Anglia Derby kembali hidup setelah terakhir kali dimainkan di musim 2010/2011 saat Norwich menghancurkan Ipswich di liga.Akankah Tractor Boys menuntut balas musim ini dan memberikan tambahan derita kepada Canaries yang degradasi ke Championship ?

5. Derby County v Nottingham Forest ( East Midlands Derby )

Derby terbesar yang sering dimainkan di Football League saat ini adalah "East Midlands Derby". Nottingham Forest dan Derby County memulai sejarah mereka terjalin sejak awal 1970-an ketika seorang pria muda bernama Brian Clough mengambil alih kendali di Baseball Ground ( markas lama Derby ) dan memimpin Rams ( julukan Derby ) untuk promosi dan kemudian menggapai gelar Divisi Pertama, tetapi argumen dengan pemilik klub membuat dia mngunduran diri, yang diterima. Setelah beberapa saat bekerja di Leeds United,Clough kemudian mengambil alih kendali Nottingham Forest yang merupakan tetangga Derby di mana ia tidak hanya menyamai raihan yang dicapai saat di Derby, tapi juga membawa Forest memenangkan dua Piala Eropa dan 4 Piala Liga hanya dalam waktu 14 tahun yang tentunya meninggalkan rasa asam bagi pendukung Derby.

Beberapa pertemuan terakhir mereka penuh drama, dimana insiden bendera Nathen Tyson (yang ironisnya, kemudian bergabung dengan Derby) pada tahun 2009 yang menyebabkan hukuman larangan bermain untuk dua pemain serta baku hantam antar pemain. Hasil seperti kemenangan Derby dengan 10 pemain pada 2011, kemenangan Forest 5-2 pada tahun 2010 dan Derby 5-0 Februari 2014 lalu membiarkan kedua fans merasakan kegembiraan dan penderitaan yang datang bergantian lewat pertandingan derby. Banyak pemain dan manajer seperti Billy Davies, Rob Earnshaw, Steve McClaren dan Kris Commons yang di-asosiasikan dengan kedua klub yang semuanya menambahkan menjadi bumbu tambahan di "
East Midlands Derby" . Forest dan Derby akan berjuang promosi dari Championship di musim 2014-15 yang seharusnya membuat 2 pertemuan yang akan datang ditunggu oleh kedua kubu.

Musim ini : seperti yang sudah dijelaskan,mereka akan bertemu dua kali di Championship 14/15 dan tentunya dengan ambisi yang kedua tim ingin capai musim ini ,tentunya pertandingan ini patut anda nikmati!



By : @Obinhartono1

Sunday, July 20, 2014

"No Herrera, No Party" ? Coba Pikir lagi !

Welcome to modern football. Once again, Athletic Bilbao (Mirror)

Ditinggal oleh pemain bintangnya untuk hijrah ke klub yang lebih besar, setelah Javi Martinez lalu disusul oleh the lion king, Fernando Llorente, kini salah satu pujaan dari publik San Mames, Ander Herrera turut meninggalkan klub asal Basque tersebut. Setelah bahu membahu bersama Aritz Aduriz, Markel Susaeta, Aymeric Laporte dan pemain Athletic Bilbao lainnya akhirnya mereka mampu menempati peringkat ke empat Liga Spanyol 2013/2014 yang sekaligus berarti mereka menembus babak kualifikasi Liga Champions. Setelah menjalani musim yang luar biasa bersama Athletic Bilbao akhirnya pinangan dari raksasa Inggris, Manchester United mampu meluluhkan hatinya, dengan fee sebesar kurang lebih 27 Juta Pounds ia pergi meninggalkan klub yang telah membesarkan namanya. Lalu timbul pertanyaan bagi para pendukung Athletic Bilbao dan juga penikmat sepakbola, apa yang akan terjadi di Athletic Bilbao setelah kehilangan Ander Herrera?

Athletic Bilbao adalah salah satu klub besar di Liga Spanyol dan juga klub ini tidak pernah kekurangan talenta-talenta baru. Tetapi mengingat pentingnya peran Ander Herrera musim lalu, Athletic Bilbao tentunya akan sangat merasakan perbedaan dengan ketiadaan Ander musim 2014/2015 mendatang. Tak bisa dipungkiri Ander Herrera adalah salah satu gelandang terbaik di Liga BBVA musim lalu, dengan rating rata-rata 7.38 ia adalah pemain dengan rating tertinggi di Athletic Bilbao musim lalu. Well, Athletic Bilbao memiliki beberapa gelandang yang cukup mumpuni seperti Benat, Mikel Rico, ataupun Oscar de Marcos, tapi apakah mereka mampu menutup lubang yang ditinggalkan oleh Ander Herrera? 

Salah satu kunci keberhasilan dari Athletic Bilbao musim lalu menembus zona Kualifikasi Liga Champions adalah Ander Herrera. Salah satu elemen utama dari Ander Herrera adalah kemampuan untuk membantu pertahanan timnya, walaupun sepanjang musim lalu ia sering bermain sebagai attacking midfielder, tetapi ia tercatat melakukan 75 kali tekel berhasil sepanjang musim 2013/2014, jumlah yang sangat banyak untuk seorang attacking midfielder dan juga itu adalah jumlah tekel berhasil terbanyak di Liga Spanyol musim lalu. Selain hebat dalam hal merebut bola, Ander Herrera juga mampu membangun serangan dengan cukup baik, 5 gol dan juga 5 assist ia bukukan tahun lalu, nilai plus lainnya adalah Ander juga mampu mengesekusi free kick dengan cukup baik. 

Statistik gelandang Ath.Bilbao musim 2013/2014 (Squawka)

Dari statistik diatas, terlihat jelas betapa berperannya Ander dalam menggalang lapangan tengah dari Athletic Bilbao, mulai dari total umpan yang dilakukan, tekel yang berhasil sampai peluang yang dibuat oleh Ander masih menjadi yang tertinggi. Tapi, ada satu nama yang cukup menarik untuk saya pribadi, dia adalah Mikel Rico. Diboyong senilai 2.5M Euro  dari Granada 2 tahun lalu, ia kini telah menjadi pemain penting dalam armada Ernesto Valverde. Memiliki kemampuan defensif yang cukup mumpuni adalah salah satu kelebihan Mikel Rico, musim lalu tercatat 36 intercept dan 51 tackle sukses dilakukan Rico untuk Athletic. Angka 36, merupakan jumlah intercept terbanyak di tubuh Athletic Bilbao musim lalu.


Saatnya Mikel Rico jadi panutan di tengah 
Saat ini juga tercatat ada nama Erik Moran, Inigo Ruiz dan banyak lai yang sedang menunggu kesempatan masuk tim utama. Walaupun klub ini memiliki tradisi kuat untuk hanya memberikan seragam kepada mereka yang berdarah Basque, Athletic Bilbao tetap merupakan gudang talenta Spanyol. Mereka berhasil tanpa Javi Martinez, mereka berhasil tanpa Fernando Llorente, dan sekarang bukan tidak mungkin mereka meraih hal serupa.. 

Layaknya pribahasa, "Mati satu, tumbuh seribu."



 Athletic Bilbao memang selalu menarik perhatian dengan talenta - talenta yang mereka suguhkan. Well, in the end, I hope Athletic Bilbao will continue their great performance this season and many - many seasons to come.


By @fa_tama

Friday, July 11, 2014

Candu Bernama Transformasi Posisi

Tim nasional Belanda akhirnya gagal kembali ke final World Cup setelah ditumbangkan Argentina dalam drama adu penalti. Finalis Piala Dunia 2010, dan juga spesialis runner-up tersebut akan menghadapi tuan rumah, Brazil untuk memperebutkan juara ketiga, dini hari nanti (Sabtu, 12 Juli 2014).

Louis van Gaal melakukan kombinasi brilliant antara pemain muda, dengan para senior mereka dengan formasi 5-3-2. Terlihat defensive di atas kertas, namun Belanda tetaplah Belanda.. Totalvoetbal masih berhasil ditampilkan oleh Robin van Persie dan kawan - kawan. Pada Piala Dunia kali ini, van Gaal mempercayakan Daley Blind & Dirk Kuyt untuk mengisi posisi wing-back. Ya, keduanya tidak mengisi posisi natural mereka, Kuyt merupakan seorang winger atau striker, sedangkan Blind alaminya berposisi sebagai gelandang bertahan. Namun kedua sukses menjalankan tugas mereka, begitu juga dengan Bruno Martins Indi yang lebih sering bermain sebagai bek kiri dibandingkan bek tengah.


Kejeniusan van Gaal beri kesempatan Kuyt tetap bermain di World Cup


Perputaran posisi bukanlah hal yang aneh di tim nasional Belanda, kita mengingat Giovani van Bronckhorst, atau bahkan Ruud Gullit yang pernah bermain di segala posisi. Dirk Kuyt sendiri sebenarnya sudah pernah mengalami transformasi sebelumnya, dari seorang striker, ia digeser untuk mengisi sayap kanan, lalu sedikit ditarik menjadi gelandang kanan, sebelum akhirnya Louis van Gaal kembali menarik Kuyt lebih ke belakang lagi menjadi wing-back. 

Mereka semua disebut Utility Players. Pemain - pemain yang dapat mengisi berbagai posisi di lapangan, tapi apakah hanya mereka ? Tentu tidak, banyak pesepakbola merupakan Utility Players, namun kebanyakan dari mereka hanya menggunakan kemampuan tersebut dalam kondisi darurat, bukan sebagai rencana utama pelatih, tidak seperti Blind dan Kuyt. Lalu siapa yang berhasil melakukan transformasi posisi layaknya kedua wing - back Belanda tersebut ?

1. Julio Arca (Argentina)

Mantan pemain Argentina U-20 ini mengawali karirnya di tanah kelahiran sebagai bek kiri (LB), namun setelah hijrah ke Inggris, Peter Reid, pelatih yang memboyong Arca ke Sunderland memberi sedikit dorongan dan berhasil mengkonversi Julio Arca sebagai seorang gelandang kiri (LM). Selama 6 tahun berseragam The Black Cats - julukan Sunderland - Arca berhasil memberi gelar Championship pada tahun 2005, setelah sempat beberapa kali kehilangan performa terbaiknya. 

Pada akhir musim Premier League 2005-2006, Sunderland harus terdegradasi, dan Arca meninggalkan Stadium of Light untuk bergabung dengan rival mereka di riverside, yaitu Middlesbrough. Posisi Arca kembali diubah, dalam skema Gareth Southgate, Arca dipercaya untuk bermain sebagai gelandang tengah. Hasilnya ? Ia lebih sering menjadi penonton di dua musim pertamanya akibat cedera. Namun setiap kali ia bermain di lapangan, permainan Middlesbrough menjadi lebih solid. Gareth Southgate bahkan mempercayai Arca sebagai kapten menggantikan George Boateng.


2. Valon Behrami (Swiss)

Behrami merupakan seorang gelandang kanan, paling tidak posisi itulah yang ia tempati saat masih berseragam Genoa, Lazio, dan West Ham United. Sialnya, walaupun sering kali bermain bagus gelandang yang saat ini berseragam Napoli sangat jarang memberi kontribusi sebuah assist, yang bisa dikatakan merupakan sebagian besar tugas dari pemain - pemain yang bermain di posisi tersebut. Total hanya 3 assist ia sumbangkan untuk ketiga klub tersebut. Pada pertengahan musim 2010 - 2011, West Ham United meminjamkan Behrami kembali ke Italia bersama Fiorentina. 

Saat berada di Florance-lah Sinisa Mihajlovic mengadopsi Behrami sebagai seorang gelandang tengah. Ajaib ! Hanya setengah musim bersama Fiorentina, ia berhasil melampaui raihan total assist tadi. Behrami berhasil mengkreasi 4 gol, dan 2 diantara terjadi dalam 90 menit, saat Fiorentina mempecudangi Udinese 5-2, pada awal bulan Mei 2011. Pada akhirnya, Fiorentina memutuskan untuk mengamankan status pemain kelahiran Mitrovice tersebut dan secara resmi menjadi gelandang Fiorentina di musim 2011-2012 dan tampil 33 kali sebelum akhirnya hijrah ke Napoli. Bayangkan jika seorang Valon Behrami tetap bermain sebagai gelandang kanan.. Mungkin ia tidak akan ada di World Cup 2014.


3. Gareth Bale



Flop to Top, Gareth Bale ! Tottenham membeli Gareth Bale dari 'pabrik' pemain - pemain Britannia, Southampton sebagai bek kiri (LB) pada tahun 2007 dengan biaya 7 juta Pounds. Bale sempat menjadi pemain sensasional di musim pertamanya di London, ia mencetak 3 gol dalam 4 kesempatan sebagai starter. Walaupun memiliki naluri menyerang yang sangat tinggi, Juande Ramos masih tetap menggunakan Gareth Bale sebagai seorang defender, sensasi bek berusia 18 tahun itu lenyap setelah ia diterpa cedera, dan posisinya tergusur oleh Assou-Ekoto.

Kemudian Harry Redknapp masuk sebagai manager baru Spurs, di musim pertama mantan pelatih Portsmouth menangani Tottenham, rival dari Arsenal tersebut begitu sulit mendapatkan kemenangan setiap kali Redknapp menurunkan Bale. Pada bursa transfer Januari, Redknapp hampir melepas jasa Gareth Bale, lebih murah 50% dibanding saat pihak klub membelinya dari Southampton. Beruntung Alex McLeish saat itu menolak tawaran Tottenham, dan Bale akhirnya bertahan. Pada pertandingan - pertandingan penutup musim, Harry Redknapp baru mendorong pemain Wales sebagai sayap kiri, dan kita semua tentu ingat bagaimana aksi Bale menyisir sisi kiri lapangan, seperti saat ia memperdaya Maicon.

Sejak saat itu, Bale selalu dipercaya sebagai sayap kiri oleh Redknapp. Musim 2012 / 2013, Tottenham kembali mengganti manager tim mereka, Andre Villas-Boas yang gagal di Chelsea, ambil alih kursi kepelatihan. AVB memulai tahap akhir transformasi seorang Gareth Bale dengan menggeser-nya menjadi gelandang serang yang ada di belakang striker. Pada musim inilah dunia kembali terhipnotis oleh aksi Bale, ia bahkan dianggap membawa Tottenham seorang diri saat itu. Ada pula yang mensejajarkannya dengan Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo dan akhirnya, Real Madrid tergoda untuk memecahkan rekor transfer untuk membeli seseorang yang sempat ditawarkan ke berbagai klub dengan harga 3 juta Pounds.


4. Gianluigi Buffon



No further comment, ini jawaban Gigi Buffon tentang transformasi posisinya. Dulu dia hanyalah seorang anak yang sama kayak kita semua. Pengen jadi striker, cetak gol, dan lari - lari. Bukan kiper yang punya kemungkinan lecet lebih besar, cuma nonton dari belakang, dan membosankan :))


Noteable mentions:

- Julio Baptista:

Kalian yang pernah main Football Manager / Winning Eleven pasti tau bagaimana mobile-nya pemain asal Brazil ini, tapi skill yang dia punya ngambang semua :|

- Jose Baxter:

Saat masih berstatus pemain muda Everton, Baxter adalah seorang striker yang kalah bersaing dengan seniornya. Sekarang ia bermain untuk Sheffield United sebagai gelandang serang, dan hampir tidak pernah absen dari lapangan.

- Rafael Marquez

Kapten tim nasional Mexico sering kali bermain sebagai gelandang bertahan saat berseragam FC Barcelona. Ia menjadi kunci triangle defense andalan Frank Rijkaard, namun di tim nasional ia merupakan seorang bek tengah yang tangguh.

- Michael Essien

Essien merupakan gelandang box to box yang memiliki stamina dan semangat tinggi, seperti seekor bison. Sejalannya waktu, dengan menua-nya usia Essien, ia sering ditarik menjadi seorang bek kanan di berbagai klub tempatnya bermain. Hal ini sama dengan gelandang anyar West Bromwich Albion, Craig Gardner. Mereka rela ditempatkan dimana saja selama bukan bangku cadangan.

- Callum Reilly

Reilly bermain sebagai seorang bek kiri saat ia masih sangat muda, namun setelah menimbah ilmu di akademi Birmingham City, Callum Reilly dibentuk menjadi seorang gelandang dengan visi permainan yang cukup.

- Stewart Downing

Downing mengawali karir sebagai bek kiri, dan beberapa kali di dorong untuk mengisi pos sayap kiri Middlesbrough. Hijrah ke Aston Villa, kurang lebih Downing memainkan peran yang sama, hanya saja prioritasnya lebih kepada seorang winger. Akhirnya saat berseragam Liverpool, Stewart Downing paten menjadi seorang pemain sayap. Downing senasib dengan Antonio Valencia, hanya beda daerah beroperasi.


Well, ya mereka cukup sukses dalam melakukan transformasi tersebut, bahkan Buffon membuktikan pemikiran kita tentang kiper dan striker berbeda jauh dengan kenuyataan. Transformasi posisi memanglah sebuah candu (kalo laku).



By: @adrieedu

Monday, July 7, 2014

"Anak Dewa", Carlos Santana Benar - Benar Nyata ?

Melihat perhelatan Piala Dunia yang di adakan di neg'ri Samba dan para pesertanya membuat saya ingin mebahas tentang salah satu pemain, teman-teman pasti tahu kartun yg melegenda dari negeri sakura, kartun yg menginspirasi banyak anak namun banyak hal konyol bila diperhatikan dari kartun tersebut. Melakukan sundulan sambil berbicara berkalimat-kalimat ataupun melepaskan tendangan sambil mengenang masa lalu.

Ada yang tau kartun apa itu ? 


Ya Captain Tsubasa ! Akan tetapi, bukan Tsubasa yang akan saya bahas kali ini melaikan pemain yang dibuat berasal dari Brazil yaitu Carlos Santana.


"Pertandingan baru dimulai"

Ada apa dengan Santana ? Bila kita lihat dari tampilan fisiknya tidak ada pemain Brazil yang sama dengannya, begitu juga dengan sikap dan gaya permainanya tak ada pemain yang sama dengannya.
  
Kembaran Santana bukanlah dari Brazil, melainkan neg'ri Pizza, Italia. Siapakah dia?? 

Siapa lagi yang sekilas tampilan fisik dan gaya permainanya sama dengan karakter Santana kalau bukan Mario Balotelli! Super Mario nampak memiliki 'kesamaan' dengan Carlos Santana.

Dalam animasi Captain Tsubasa, Santana di ceritakan sebagai seorang pemain muda asal brazil yg memiliki bakat serta kemampuan yg luar biasa. Bahkan dia di juluki sebagai Son of God dan Soccer Cyborg. sayapun masih ingat betul episode dimana Santana berlatih sendiri lalu bilang bahwa dia adalah anak Dewa, lalu muncul patung Yesus kebanggaan Brazil di belakang tubuhnya, hehe maaf sedikit mengenang masa lalu.

Santana bagaikan seorang pesepakbola tanpa perasaan, mencetak gol tanpa ekspresi hanya tau tugasnya tuk mencetak gol dan tak kenal lelah bak Cyborg, Hal itu disebabkan oleh masa lalunya yg kelam. Ia dibuang oleh orang tuanya dan mengalami kehidupan yg sangat sulit, dan hanya tahu Sepakbola sebagai kehidupanya tanpa mendapat pendidikan di sekolah dan sebagainya. Bukankah Mario Balotelli juga dibuang oleh orangtuanya ? Bukankah striker utama tim nasional Italia tersebut sering memasang muka tanpa ekspresi saat mencetak gol ?

Baik Mario Balotelli dan Carlos Santana sama - sama menganggap sebuah gol tidak perlu dirayakan, karena itulah tugas mereka sebagai seorang striker.


Little Mario (Kanan)
Balotelli yang terlahir sebagai kulit hitam membuatnya manjadi sasaran aksi rasisme, pemain keturunan Ghana yang dicampakan orangtuanya di Rumah Sakit Palermo, dari kecil hingga sekarang Balotelli tak luput dari serangan rasisme apalagi saat di ketahui ia merupakan seorang anak angkat, hal itu membentuk pribadi yang bengal dan melampiaskanya di Sepakbola.

Santana dan Balotelli sama - sama menemukan sosok ayah bernamakan Roberto, Roberto Hongo mengarakan Santana menjadi sosok yang lebih baik lagi dari sebelumnya, sedangkan Roberto Mancini berhasil meredam aksi bengal Balotelli untuk kemudian dilampiaskan di lapangan. Pada akhirnya, baik Carlos Santana dan Super Mario berhasil menjadi pemain kunci negara masing - masing.

Sepertinya sah - sah saja jika kita menyamakan Mario Balotelli dengan Carlos Santana, bahkan bukan tidak mungkin Super Mario memang terinspirasi animasi Jepang yang juga diakui striker Spanyol, Fernando Torres sebagai pembuka impiannya. Pasalnya, animasi "Captain Tsubasa: Road to 2002 dirilis pada tahun 2001, saat Mario masih berusia 11 tahun, saat - saat dimana hampir semua anak di dunia mulai memiliki impian.



By: @Reza_Kemal

Kepingan yang hilang dari Perancis



Ada yang hilang di Brazil

Perancis tampil sangat impresif di babak grup Piala Dunia 2014 Brazil. Mencetak 8 gol dan hanya kebobolan 2 dari 3 pertandingan membuat mereka kembali menjadi tim unggulan. Performa ciamik dari Karim Benzema dianggap menjadi kunci keberhasilan Perancis dan membuka jalan menuju penembusan 'dosa' 4 tahun lalu dimana juara dunia tahun 1998 tersebut harus terhenti di babak group.

Komposisi pemain di setiap posisi-pun sangat mumpuni. Mistar gawang dijaga sang kapten Hugo Lloris yang tak perlu diragukan lagi kemampuannya. Pada barisan bek, mereka memiliki banyak bek tangguh dalam diri Raphael Varane, Mamadou Sakho, Laurent Koscielny dan Patrice Evra serta Mathieu Debuchy yang mampu menyerang dan bertahan sama baiknya.

Trio gelandang Perancis tak perlu diragukan lagi kemampuannya. Yohan Cabaye, Paul Pogba dan Blaise Matuidi menjadi sosok sentral dalam permainan mereka. Cabaye yang lebih bermain ke belakang menjadi benteng pertama yang akan dihadapi lawan. Selain itu dia pula yang mengatur ritme permainan. Paul Pogba, kapten Perancis U-20 yang membawa negaranya menjadi juara dunia ini dapat diandalkan dalam memberikan umpan-umpan matang ke lini depan. Ia pun dapat menjadi pemecah kebuntunan, seperti yang ditunjukkannya saat melawan Nigeria. Sedangkan Blaise Matuidi punya kemampuan membaca permainan dan daya jelajah yang sangat baik. Ketiganya dianggap sangat padu.


Griezmann, kepingan berharga Perancis, di masa depan. 
Lini depan mungkin dianggap orang sebagai pusat kekuatan Perancis. Padahal disanalah “kepingan” yang hilang. Karim Benzema sebagai juru gedor utama sudah membuktikan kualitasnya, begitu pula dengan Mathieu Valbuena yang sangat eksplosif dan ahli bola - bola mati. Akan tetapi, mereka masih membutuhkan 1 pemain lagi. Pada babak grup, 3 pemain dicoba untuk menemani Benzema dan Valbuena di lini depan. Antoine Griezmann, Olivier Giroud dan Moussa Sissoko bergantian tampil di lini depan. Sayang, tidak ada satu-pun dari mereka berhasil menggantikan sosok Frank Ribery. Perancis memang sudah cukup tajam, tapi untuk hal ini, ucapan terima kasih juga layak disamatkan trisula Perancis kepada pertahanan lawan yang memiliki konsetrasi lemah.

Pada akhirnya Perancis harus pulang karena kekalahan atas Jerman di babak perempat final, dengan skor 1-0. Benar - benar terasa, ada sebuah bagian yang hilang dalam tubuh tim nasional Perancis. Walaupun usaha mereka jauh lebih baik bila kita bandingkan dengan Piala Dunia 2010, saat Perancis harus angkat koper dengan label juru kunci di akhir babak group, pada Piala Dunia kali ini, Perancis kehilangan seorang ice-breaker. 


Messi pecah kebuntuan Argentina vs Iran

Pemain yang dapat memikul beban besar dalam tekanan dan memberikan sebuah percikan semangat kepada rekan senegara dengan kemampuan individunya. Jika Argentina memiliki sosok Lionel Messi, Belanda mengandalkan Arjen Robben, Jerman tersuntik daya magis Toni Kroos, ada nama Neymar di kubu tuan rumah, bagaimana dengan Perancis ?




Jika saja kepingan itu ditemukan, sangatlah mungkin sosok Didier Deschamps akan menjadi orang pertama sebagai pemain dan pelatih yang tak pernah merasakan kekalahan di Piala Dunia setelah membawa negaranya juara di kandang sendiri pada tahun 1998.

By: @bertrandtarigan